Friday, July 3, 2009

Mujahadah

Create your own banner at mybannermaker.com!




MUJAHADAH UNTUK MEMPEROLEH RIDHO ALLAH.

http://mujahadah.rssalizer.hop.clickbank.net



mailonpix.com



Mujahadah berasal dari kata Jaahada yang artinya adalah berjuang keras dengan sekuat tenaga.
Setiap kali kita mendengar kata jihad, selalu kita menghubungkannya dengan perang mengangkat senjata. Memang benar berperang(dgn mengangkat senjata) dijalan Allah adalah jihad fii sabilillah, akan tetapi berperang menggunakan senjata bukan satu2nya jihad fii sabilillah, bahkan perang ini menurut Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w. adalah jihat kecil (shagir), sementara jihad besar(akbarnya) adalah perang melawan hawa nafsu kita sendiri. Sebagaimana dikatakan oleh Beliau ketika selesai perang Badar, :” Kita baru saja selesai dari perang kecil menuju keperang yang lebih besar (memerangi hawa nafsu).” Perang Badar yang begitu besarnya karena saking banyaknya korban yg berjatuhan baik di pihak Rasul sendiri maupun di pihak musuh, ternyata hanya disebut perang kecil.
Banyak ayat2 yang berkaitan dengan jihad misalnya didalam Surat Hud ayat 41 Allah berfirman :” Wajaahiduu bianwalikum waanfusikum fii sabiilillahi dzaalikum khairulakum inkuntum ta’lamuun.” (Berjihadlah dengan harta kalian dan jiwa kalian di jalan Allah, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui )
Juga diayat lain Allah berfirman:” Walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulana.” (Dan orang2 yang berjihad dijalan kami niscaya akan kami tunjukkan jalan2 kami kepada mereka).
Setiap orang siapapun dia untuk mendapatkan ridho Allah harus bemujahadah terlebih dahulu. Tidak ada didunia ini seorangpun yang ibadahnya, entah itu sholatnya, entah itu puasanya, santai2 saja, semaunya sendiri, tanpa bermujahaadah/berjuang keras sekuat tenaga, tiba2 dia mendapatkan ridho Allah.
Mari kita lihat orang yang bertaqwa yg disifatkan oleh Allah swt didalam Al Qur’an. Seperti apa sih orang yang bertaqwa itu? Apakah mereka tanpa bermujahadah bisa meraih gelar taqwa? Sudah barang tentu setiap orang yang telah meraih gelar taqwa pasti telah melaui perjuangan yg sangat keras/mujahadah.
Sebagaimana firman Allah didalam surat Al Baqarah dan surat Ali ‘Imran, maka yang dimaksud orang yang bertaqwa adalah :” Alladziina yu’minuuna bilghaibi wayuqiimuunashshalata wamimmaa razaqnaahum yunfiquun.” Walladziina yu’minuuna bimaa unzila ilaika wamaa unzila minqablika wabilakhirati hum yuuqiinuun.” Walladziina yunfiquuna fissarraa’I wadhdharraa’I wal kazhiimiinalghaizha wal ‘aafiina ‘aninnaasi wallaahu yuhibbul muhsinin.”
(Orang2 yang bertaqwa adalah orang2 yang beriman kepada yang gho’ib, dan mendirikan sholat, dan menginfakkan sebagian rizqi yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan orang2 beriman terhadap Al Qur’an yang diturunkan kepadamu(Muhammad) dan kitab2(Zabur,Taurat,Injil) yang diturunkan sebelum kamu, dan beriman kepada hari akhirat. Dan orang2 yang menginfakkan hartanya dalam keadaan lapang ataupun sempit, dan mampu menahan amarahnya ketika sdg marah, dan mau memaafkan kesalahan orang lain, Allah menyukai orang2 yang berbuat ihsan). Itu semua tersebut diatas adl ciri2 orang yang bertaqwa. Jadi apabila pada diri seseorang terhimpun semua ciri2 tsb, maka dia adl org yang bertaqwa. Dari sini maka kita dapat bertanya kpd diri kt msg2 apakah kriteria2 tsb diatas sdh terhimpun dalam diri kita?. Kalau sudah….., sokur alhamdulillah. Kalau belum, maka marilah kita himpun ciri2 tsb dalam diri kita…, dan sdh brg tentu pasti hal ini hanya akan terwujud dgn bermujahadah.
Dari kriteria2 tsb diatas, maka ada 9 sifat orang bertaqwa yaitu:
1.Beriman kepada yang gho’ib.
2.Mendirikan sholat.
3.Infak.
4.Iman kepada Al Qur’an.
5.Iman kepada kitab2 sebelumnya.
6.Beriman kepada hari akhirat.
7.Berinfak dalam keadaan lapang ayaupun sempit.
8.Mampu menahan amarahnya ketika dia marah sekali.
9.Mau memaafkan orang lain.
Marilah kita tinjau kriteria2 tsb diatas satu persatu, tapi saya akan mulai dari yang nomor 2 yaitu:” Wayuqiimuunashsholata.” Yaitu orang2 yang mendirikan sholat,krn sholat adl tiangnya agama.
Sudahkah kita mendirikan sholat? Apa sih yg dimaksud mendirikan sholat itu?
Menurut Moh ‘Alishshobuni didalam kitab tafsirnya(Shofwatuttafassir), beliau mengatakan bahwa orang yang mendirikan sholat adl : yu’duunaha ‘alaa wajhil’akmali bisyuruthihaa, wa arkaanihaa, wakhusyuu’ihaa, wa adaabihaa. (orang yang mendirikan sholat adalah orang yang melaksanakan sholatnya dengan berbagai macam kesempurnaan baik mengenai syarat2 sholat, dan rukun2 sholat, dan kekhusyu’an sholat maupun adab2 nya). Kmd menurut Ibnu ‘Abbas (salah seorang yang didoakan Rasul paham/pandai Al Qur’an) bhw yg dimaksud orang yang mendirikan sholat adl: Qiyamuhu bi itmaami ruku’ihaa, wasujuudihaa, watilawaatihaa, wakhusyuu’ihaa. (Mendirikan sholatnya dengan menyempurnakan ruku’nya, sujudnya, bacaannya, dan khusyu’nya). Itulah yg dimksd org yg mendirikan sholat.
Untuk menyempurnakan ruku’ dan sujud mungkin tidak ada masalah, tetapi bagaimana mengenai kesempurnaan bacaan kita dan kekhusyu’an kita didalam sholat? Padahal kita tahu bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa bacaan/tilawah termasuk salah satu syarat mendirikan sholat. Sudahkah kita mengucapkan bacaan/tilawah kita(dalam sholat) dengan baik dan benar? Dan mengetahui kata demi kata yang kita baca didalam sholat? Banyak orang yg belum dapat membaca dengan baik&benar akan tetapi tidak mau belajar dgn alasan malu. Tetapi anehnya tidak malu2 ketika mengucapkan bacannya tsb didalam sholat. Kenapa kita tdk lbh malu kepada Allah drpd kpd manusia? Padahal Allahlah yang paling berhak kita malu kepadaNya.
Untuk itu mulai sekarang marilah kita sempurnakan bacaan kita…,serta mengetahui kata demi kata yang kita baca dalam sholat kita dan inilah salah satu bentuk mujahadah kita.
Bilamana ada yang mau belajar, silahkan pintu rumah saya terbuka 24 jam bagi yang akan belajar Al Qur’an dengan gratis tidak akan dipungut beaya satu rupiahpun.
Kemudian persyaratan lain yang harus dipenuhi bagi seseorang yang mendirikan sholat adalah memelihara kekhusyu’an dalam sholatnya.
Menurut salah seorang ulama salaf, salah satu persyaratan sholat khusyu adalah Hudhurul qalbi (menghadirkan hati) didalam sholatnya, apa yang dimaksud dengan menghadirkan hati?
Yang dimaksud dengan menghadirkan hati adalah mengosongkan hati dari selain Allah. Biasanya hati orang itu hanya dipenuhi dengan hal2 lain yang hanya akan menjadi hijab/penghalang bagi seseorang untuk bisa khusyu didalam sholatnya. Karena hatinya hanya penuhi dengan dunia, entah itu berupa harta, jabatan, kedudukan, harga diri dan lain sebagainya. Bukan berarti kita tidak boleh urusan dunia, sama sekali bukan itu maksudnya, boleh kita berinteraksi/urusan dunia (bahkan ini diharuskan karena kita khalifah dimuka bumi ini) akan tetapi jangan sampai dunia tadi bersemayam/disimpan didalam hati kita sehingga hanya akan menjadikan kita lupa kepada sang Maha Pencipta ( Allah s.w.t.).
Ingat bahwa ketika hati kita terisi (apalagi penuh) dengan hal2 selain Allah, maka pada saat itu Allah akan meninggalkan hati kita, dan ketika hati kita sudah kosong dari Allah, maka sudah pasti yang akan masuk kedalam hati kita adalah syetan. Dan syetan selamanya tidak pernah dan tidak akan pernah mengajak kepada kebaikan, syetan selalu berusaha menjerumuskan kita kelembah kebinasaan.
Maka dari itu agar kita dapat menghadirkan hati kita ketika sholat, maka kosongkanlah hati kita dari selain Allah, ketika hati kita sudah bersih dari berhala2 entah itu berupa harta, jabatan, gengsi dlsb, maka sudah pasti Allah akan hadir dalam hati kita, karena Allah sangat dekat dengan kita jikalau kita berusaha mendekatinya. Kalau Allah sdh dihati kita, maka sholat khusyu’ adalah mudah bagi kita.
Pengosongan hati dari selain Allah ini tentunya bukannya pekerjaan yg mudah, akan tetapi dengan bermujaahadah insya Allah hal tsb akan dapat kita laksanakan yang ujung2nya kita akan mendaptkan ridho Allah. bersambung!!!

Tuesday, June 23, 2009

berlomba dalam kebaikan

Create your own banner at mybannermaker.com!


BERLOMBA DALAM KEBAIKAN(T)






Marilah
berbuat baik kepada orang lain...., siapapun orang lain itu, bahkan kepada orang yang membenci/memusuhi kita sekalipun. Apalagi kepada orang yang selalu berbuat baik kepada kita, maka sudah pasti ada kewajiban bagi kita untuk berbuat baik kepadanya. Kalau kita amati secara cermat, ternyata orang yang paling baik kepada kita adalah kedua orang tua kita (pada umumnya).
Dari sejak masih didalam kandungan, kita telah mendatangkan berbagai macam kesulitan terutama kepada Ibu kita. Didalam perut tsb kita semakin membesar dan membesar, bertambah berat dan berat, sampai2 untuk sekedar berjalanpun Ibu kita mengalami kesulitan,padahal ini berlangsung cukup lama sekitar 9 (sembilan) bulan.






Akan tetapi Ibu kita tidak mengeluh sedikitpun bahkan beliau jalani dengan penuh keikhlasan. kemudian ketika ibu kita melahirkan bayi dari kandungannya yang sudah barang tentu penuh dengan kesulitan, kesakitan, dan bahkan dengan mempertaruhkan nyawanya tapi semuanya dihadapinya dengan penuh keikhlasan. Kemudian setelah kita lahir didunia ini, kita tidak tahu apa2 dan tidak dapat berbuat apa2 selain menangis, bahkan minum air susu ibukitapun kita tidak mampu kalau sekiranya Ibu kita tidak menyodorkannya kemulut kita. Masih untung Allah memberi kebisaan kepada kita walaupun hanya menangis, coba bayangkan kalau menangispun kita tidak bisa, maka ketika perut kita lapar ingin minta minum, maka Ibu kita tidak akan tahu kalau saat itu kita sedang kelaparan/kehausan. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita semua, serta segala nikmat yang begitu banyaknya sampai2 kita tidak dapat menghitungnya satu persatu karena saking banyaknya. Sehingga bayi yang tadinya tidak bisa berbuat apa-apa , lambat laun menjadi seorang anak yang sudah mulai belajar berjalan dan berbicara, meskipun berjalanpun masih tertatih-tatih bahkan kadang2 terjatuh, juga berbicarapun yg sepatah dua patah kata berkat ajaran dari kedua orang tua kita, maka jangan heran kalau kata pertama yang dapat kita ucapkan adalah kata:" Ayah dan Ibu." jadi orang yang pertama menjadi guru kita didunia ini adalah kedua orang tua kita. Didunia ini hampir setiap anak kecil yang sedang belajar berbicara , mereka semua akan belajar menyebut nama2 benda sebagaimana kita lihat ketika nabi Adam diajar nama2 benda oleh Allah s.w.t.....
Berkat kasih sayang dan bimbingan kedua orang tua kita dengan segala macam: kesulitan dan duka nestapanya maka jadilah kita tumbuh dewasa menjadi batu karang yang kokoh menahan gempuran badai dilautan.
Kebaikan dan ketulusan kasih sayang kedua orang tua kita tidak akan terbayarkan meskipun kita akan menggantinya dengan Gunung Emas sekalipun. Maka jangan heran kalau Allah s.w.t. beserta RasulNya berkali-kali memerintahkan kepada kita agar kita berbuat baik kepada keduanya. Sudah pasti kita wajib hormat,patuh dan taat kepadanya, jangan sedikitpun membuatnya kecewa.
Pada suatu hari di zaman Rasulullah s.a.w. ada salah seorang sahabat yang sedang mengalami sakaratul maut, kemudian Rasul datang menghampirinya, ketika Rasul melihat keadaan sahabat yang sangat memprihatinkan tsb, maka Beliau mencoba meringankan beban sahabat tsb dengan membisikkan kalimat syahadat ditelinganya agar supaya bisikan tsb diikuti oleh sisakaratul maut. Akan tetapi ternyata sisakaratul maut tidak bergeming sedikitpun, tidak tergerak lidahnya sedikitpun, sehingga Rasul mengulanginya dan mengulanginya sampai tiga kali. Tapi ternyata sisakaratul maut masih tidak bergeming sedikitpun. Kemudia Rasul bertanya kepada orang disekelilingnya:" Apakah dia(sisakaratul maut) masih punya ayah? kemudian dijawab bahwa ayahnya sudah meninggal. Kemudian Rasul bertanya lagi apakah dia masih punya Ibu? kemudian dijawab :" Masih ada" kemudian kata Rasul:" Dimana dia?". Ada Rasul, dia didalam kamar. Semula si Ibu tidak akan keluar kalau sekiranya bukan Rasul yabg memanggilnya. Kemudian Rasul bertanya kepada sang Ibu tentang apa kesalahan si anak yang sedang sakaratul maut tersebut sampai2 dia tidak mau mengikuti ucapan yang dibisikkan oleh Rasul ketelinganya? kemudian sang Ibu menjawab:" Dia lebih mengutamakan kepentingan istrinya daripada kepentingan saya." kemudian Rasul bertanya, maukah engkau memaafkannya? kemudian dijawab oleh sang Ibu bahwa dia tidak mau memaafkannya. kemudian Rasul memerintahkan kepada orang disekitarnya agar mencari kayu bakar. lalu ketika sang Ibu mengetahui bahwa Rasul akan membakar anaknya, maka sang Ibu serta merta terketuk hatinya untuk memaafkannya. Maka ketika sang Ibu memaafkannya, kemudian Rasul menuntun sisakaratul maut untuk mengucapkan kalimat syahadat, yang mana ucapan Rasul langsung disambut/diikuti oleh sisakaratul maut tsb. Dan begitu selesai mengucapkan kalimat tsb, tidak lama kemudian dia meninggal dunia. Hati2 dengan kedua orang tua kita, terutama kepada ibu kita, karena Surga berada dibawah telapak kaki ibu kita.
(bers)